Hai, namaku Cinta. Aku
pindahan dari Semarang, sekarang aku tinggal di Jakarta bersama kedua
orangtuaku. Dibanding Jakarta, sebenarnya aku lebih betah berada di Semarang.
Tetapi karena tuntutan pekerjaan ayah, aku dan ibu terpaksa ikut ayah tinggal
di Jakarta.
Hari ini kami harus
segera berangkat ke Jakarta, karena besok aku dan Ayah mulai beraktifitas.
Setelah lama menunggu, akhirnya kami sampai di Jakarta. Ternyata bos Ayah
menyuruh salah satu karyawannya agar menjemput kami di Bandara.
Sampailah kami di
sebuah rumah yang bergaya minimalis berlantai dua, memiliki pagar hitam dan sebuah
taman mini yang indah, terawat dan sejuk. Terlebih lagi rumah itu berdominan
dengan warna putih dan hitam yang merupakan warna kesukaan ku. Ayah langsung menyuruh kami
masuk ke dalam rumah tersebut. Aku masih terkagum-kagum melihat rumah yang berdiri tegak di hadapanku itu, takhenti-hentinya aku tersenyum. Tak sabar rsanya, aku ingin segera masuk ke dalamnya, ujarku di dalam hati.
masuk ke dalam rumah tersebut. Aku masih terkagum-kagum melihat rumah yang berdiri tegak di hadapanku itu, takhenti-hentinya aku tersenyum. Tak sabar rsanya, aku ingin segera masuk ke dalamnya, ujarku di dalam hati.
Ayah lebih memilih
tinggal di komplek, dari pada tinggal pada daerah rumah biasa. Mungkin Ayah
tidak mau kejadian dulu terjadi lagi. Dulu rumah kami pernah menjadi sasaran
maling. Menurutku lingkungan di sini tergolong tenang, jauh dari kendaraan yang
lalu lalang, udara di sini juga terasa segar, apalagi masyarakat di sini senang
menanam tumbuhan hijau.
Di sini tersedia
banyak fasilitas seperti kolam renang gratis untuk seluruh warga komplek, ada
juga tempat olahraga atau fitness center.
Untungnya, komplek ini
letaknya dekat dengan kantor Ayah dan sekolahku yang baru.
Sekarang aku duduk di
bangku kelas 2 SMA. Kalau bahas masalah sekolah aku jadi sedih, karena aku harus
meninggalkan teman-temanku di Semarang.
Setelah lama
berkeliling memandangi setiap sudut rumah baruku, tiba-tiba Ibu datang dan ia mengajakku
melihat kamar baruku.
Sewaktu Ibu mengajakku
ke kamar, Ayah lebih memilih untuk merapikan barang-barang bawaan yang masih
ada di garasi mobil. Sebenarnya barang bawaan kami tidak terlalu banyak, karena
di sini sudah tersedia di rumah ini. Tapi mobil Ayah penuh dengan kotak yang
berisi koleksi buku-bukuku, semua buku aku bawa dari mulai komik, buku
pelajaran, novel, kamus dan majalah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar