Tiba-tiba aku dan Ibu
mendengar suara Ayah yang menjerit kesakitan, karena khawatir kami langsung
keluar dan betapa paniknya Ibu saat melihat kaki Ayah berdarah tertimpa
kotak-kotak besar itu.
“Ayah ngga apa-apa kan? Kok bisa ketimpa gini sih?”
tanya Ibu panik.
“Engga apa-apa kok, Bu. Tadi cuma ketimpa kotak buku-buku Cinta aja. Di obatin nanti
juga sembuh.” jawab Ayah dengan nada sedikit merintih.
Saat itu aku melihat
seorang cowok yang sedang
memainkan bola basketnya, karena kesal aku langsung melabraknya. Aku kesal dengan sikapnya yang cuek saat melihat Ayah tertimpa kotak, aku langsung menghampirinya dan langsung memaki-makinya.
memainkan bola basketnya, karena kesal aku langsung melabraknya. Aku kesal dengan sikapnya yang cuek saat melihat Ayah tertimpa kotak, aku langsung menghampirinya dan langsung memaki-makinya.
“Eh loe, ngga punya rasa solidaritas ya! Ngeliat bokap
gue ketimpa gitu loe malah cuek aja, mentang-mentang tetangga baru. Bukannya di
tolongin, malah sok ngga peduli gitu!!”
seru ku dengan nada yang meninggi.
Dia cuma bisa diem sambil terus mainin bola
basketnya tanpa menghiraukan perkataan ku itu.
“Loe tuh denger ngga sih apa yang tadi gue omongin?? Loe tuh pura-pura budek atau emang budek beneran?” timpal ku kesal.
“Itu bukan urusan gue!!”seru dia sambil pergi
ninggalin aku.
“Ih dasar cowok songong, nyebelin, ngga tau etika
banget sih. Amit-amit banget deh gue tetanggaan sama loe” teriak gue.
Waktu makan siang, Aku
masih kesal dengan kejadian tadi pagi. Mataku memandang entah kemana dan tanpa
sadar aku menancap-nancapkan pisau ke makanan ku itu. Ayah dan Ibu sangat
bingung melihatnya.
“Cinta kenapa? Kamu ngga suka sama makanannya ya?”
tanya Ibu.
“Bukan, Bu” jawab Cinta. “Terus kenapa? Kamu ngga
suka kita pindah ke sini ya?” tanya Ibu kepadanya.
“Cinta bukan kesal gara-gara rumahnya, tapi Cita
kesal sama tetangganya!!” jawab Cinta kesal.
“Oh jadi kamu masih kesal sama kejadian tadi pagi?”
tanya Ibu.
“Iya, Bu. Kenapa sih kita harus tetanggaan sama
cowok songong dan belagu itu!” jawab Cinta sambil menunjuk-nunjuk rumah cowok itu.
“Hati-hati loh , nanti kamu malahan naksir sama
tetangga itu, dia cakep loh.” ledek Ayah.
“Ih, Ayah apaan sih” jawabku kesal.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar