WELCOME TO MY BLOG

Welcome to My World

Kamis, 18 Oktober 2012

Benci jadi Cinta Part 2

Tiba-tiba aku dan Ibu mendengar suara Ayah yang menjerit kesakitan, karena khawatir kami langsung keluar dan betapa paniknya Ibu saat melihat kaki Ayah berdarah tertimpa kotak-kotak besar itu.
“Ayah ngga apa-apa kan? Kok bisa ketimpa gini sih?” tanya Ibu panik.
“Engga apa-apa kok, Bu. Tadi cuma ketimpa kotak          buku-buku Cinta aja. Di obatin nanti juga sembuh.” jawab Ayah dengan nada sedikit merintih.
Saat itu aku melihat seorang cowok yang sedang
memainkan bola basketnya, karena kesal aku langsung melabraknya. Aku kesal dengan sikapnya yang cuek saat melihat Ayah tertimpa kotak, aku langsung menghampirinya dan langsung memaki-makinya.
“Eh loe, ngga punya rasa solidaritas ya! Ngeliat bokap gue ketimpa gitu loe malah cuek aja, mentang-mentang tetangga baru. Bukannya di tolongin, malah sok ngga peduli gitu!!” seru ku dengan nada yang meninggi.
Dia cuma bisa diem sambil terus mainin bola basketnya tanpa menghiraukan perkataan ku itu.
“Loe tuh denger ngga sih apa yang tadi gue  omongin?? Loe tuh pura-pura budek atau emang          budek beneran?” timpal ku kesal.
“Itu bukan urusan gue!!”seru dia sambil pergi ninggalin aku.
“Ih dasar cowok songong, nyebelin, ngga tau etika banget sih. Amit-amit banget deh gue tetanggaan sama loe” teriak gue.
Waktu makan siang, Aku masih kesal dengan kejadian tadi pagi. Mataku memandang entah kemana dan tanpa sadar aku menancap-nancapkan pisau ke makanan ku itu. Ayah dan Ibu sangat bingung melihatnya.
“Cinta kenapa? Kamu ngga suka sama makanannya ya?” tanya Ibu.
“Bukan, Bu” jawab Cinta. “Terus kenapa? Kamu ngga suka kita pindah ke sini ya?” tanya Ibu kepadanya.
“Cinta bukan kesal gara-gara rumahnya, tapi Cita kesal sama tetangganya!!” jawab Cinta kesal.
“Oh jadi kamu masih kesal sama kejadian tadi pagi?” tanya Ibu.
“Iya, Bu. Kenapa sih kita harus tetanggaan sama cowok songong dan belagu itu!” jawab Cinta sambil menunjuk-nunjuk rumah cowok itu.
“Hati-hati loh , nanti kamu malahan naksir sama tetangga itu, dia cakep loh.” ledek Ayah.
“Ih, Ayah apaan sih” jawabku kesal.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar